Shalat Istisqo (Definisi, Hukum, Dalil, Adab, Tata Cara, dan Doanya)
Ilustrasi – Gubernur Jawa Barat
(Jabar), Ahmad Heryawan, memimpin pelaksanaan shalat istisqa bersama anak
buahnya sebagai makmum di halaman Gedung Sate Bandung, Selasa (18/9) siang.
(Facebook)
Definisi Istisqo
Istisqo secara bahasa adalah meminta
turun hujan. Secara istilah yaitu meminta kepada Allah SWT agar menurunkan
hujan dengan cara tertentu ketika dibutuhkan hamba-Nya.
Hukum shalat
Istisqo adalah sunnah muakkadah bagi yang terkena musibah kelangkaan air untuk
minum dan kebutuhan lainnya. Dan dianjurkan bagi kaum muslimin lainnya yang
masih mendapatkan air, sebagai bentuk ukhuwah dan tolong menolong dalam
kebaikan dan ketakwaan.
Dalil Shalat Istisqo
Allah SWT berfirman:
فَقُلْتُ
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا(10)يُرْسِلِ السَّمَاءَ
عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا(11)وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ
جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا(12)
Maka aku
katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, –sesungguhnya Dia adalah
Maha Pengampun–,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan
membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan
mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (QS. Nuh: 10-12)
Hadits Rasulullah SAW:
َعَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( خَرَجَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُتَوَاضِعًا,
مُتَبَذِّلًا, مُتَخَشِّعًا, مُتَرَسِّلًا, مُتَضَرِّعًا, فَصَلَّى
رَكْعَتَيْنِ, كَمَا يُصَلِّي فِي اَلْعِيدِ, لَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ
) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَأَبُو عَوَانَةَ,
وَابْنُ حِبَّانَ
Ibnu Abbas
Radhiyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam keluar dengan
rendah diri, berpakaian sederhana, khusyu’, tenang, berdoa kepada Allah, lalu
beliau shalat dua rakaat seperti pada shalat hari raya, beliau tidak berkhutbah
seperti pada shalat hari raya, beliau tidak berkhutbah seperti khutbahmu ini.
Riwayat Imam Lima dan dinilai shahih oleh Tirmidzi, Abu Awanah, dan Ibnu
Hibban.
عن أَنَسِ
بْنَ مَالِكٍ يَذْكُرُ أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِنْ بَابٍ كَانَ
وِجَاهَ الْمِنْبَرِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ
يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَائِمًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْمَوَاشِي وَانْقَطَعَتْ
السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ يُغِيثُنَا قَالَ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا
اللَّهُمَّ اسْقِنَا قَالَ أَنَسُ وَلاَ وَاللَّهِ مَا نَرَى فِي السَّمَاءِ مِنْ
سَحَابٍ وَلاَ قَزَعَةً وَلاَ شَيْئًا وَمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ سَلْعٍ مِنْ
بَيْتٍ وَلاَ دَارٍ قَالَ فَطَلَعَتْ مِنْ وَرَائِهِ سَحَابَةٌ مِثْلُ التُّرْسِ
فَلَمَّا تَوَسَّطَتْ السَّمَاءَ انْتَشَرَتْ ثُمَّ أَمْطَرَتْ قَالَ وَاللَّهِ
مَا رَأَيْنَا الشَّمْسَ سِتًّا ثُمَّ دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ ذَلِكَ الْبَابِ فِي
الْجُمُعَةِ الْمُقْبِلَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَهُ قَائِمًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْأَمْوَالُ
وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ يُمْسِكْهَا قَالَ فَرَفَعَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ
حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ
وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ ( البخاري )
Dari Anas bin Malik RA menyebutkan
bahwa ada seorang lelaki pada hari Jum’at masuk dari pintu menuju mimbar.
Sedang Rasulullah SAW berkhutbah. Dia menemui rasul SAW sambil berdiri dan
berkata: wahai Rasulullah SAW telah musnah binatang ternak dan sumber mata
air sudah tidak mengalir. Mohonlah pada Allah agar menurunkan air untuk kami.
Berkata Anas: Maka Rasulullah SAW mengangkat kedua tangan ke langit dan
berdoa: Ya Allah turunkan bagi kami hujan 3x. Berkata Anas RA Demi
Allah pada saat kami tidak melihat di langit mendung, gumpalan
awan atau apapun. Dan sebelumnya di antara rumah kami dan gunung tidak ada
penghalang untuk melihatnya”. Berkata Anas RA, “Maka muncullah di belakangnya
mendung seperti lingkaran. Dan ketika sampai di tengah, menyebar dan turunlah
hujan.” Anas RA berkata: “Maka kami tidak melihat matahari selama enam hari”.
Kemudian muncul lagi lelaki tersebut dari arah pintu yang sama pada Jum’at
sesudahnya dan Rasul SAW sedang khutbah. Dia menghadap Rasul saw sambil berdiri
dan berkata: “Wahai Rasulullah SAW harta-harta hancur dan sungai-sungai penuh,
berdoalah kepada Allah agar menghentikannya. Maka Rasulullah SAW mengangkat
tangan dan berdoa Ya Allah berilah hujan sekeliling kami bukan
adzab bagi kami, jatuh pada tanah, gunung-gunung, pegunungan, bukit-bukit,
danau- danau dan tempat tumbuh pepohonan” (HR. Bukhari)
Macam-Macam Istisqo
Istisqo memiliki tiga macam, yaitu:
- Istisqo yang paling ringan, yaitu doa tanpa
shalat dan tidak juga setelah shalat di masjid atau selain masjid, sendiri
atau jamaah. Dan sebaiknya dilakukan oleh orang-orang yang shalih.
- Istisqo pertengahan, yaitu doa setelah shalat
Jum’at atau shalat lainnya, ketika khutbah Jum’at atau khutbah yang lain.
- Istisqo yang paling utama adalah Istisqo dengan
di dahului shalat dua rakaat dan dua khutbah. Dilakukan oleh muslim, baik
musafir atau muqim, penduduk kampung atau kota.
Waktu Istisqo
Jika hanya doa, maka dapat dilakukan
kapan saja, dan lebih baik jika dilakukan saat khutbah Jum’at. Jika doa dan
shalat maka dapat dilakukan kapan saja, tetapi jangan dilakukan pada waktu yang
dimakruhkan shalat. Waktu yang utama adalah pada waktu Dhuha sampai Zhuhur
sebagaimana shalat Id.
Tempat Shalat Istisqo
Shalat Istisqo dapat dilakukan
di masjid atau di luar masjid
Adab sebelum shalat Istisqo
- Memperbanyak istighfar dan taubat di
hari-hari sebelumnya
- Menghindari perbuatan zhalim dan mengembalikan
hak-hak orang yang terzhalimi
- Didahului dengan berpuasa tiga hari
- Hari pelaksanaan dianjurkan puasa.
- Memperbanyak sedekah.
- Sebelum pelaksanaan, disunnahkan melakukan
thaharah seperti, mandi, bersiwak, menjauhkan perhiasan dan
wangi-wangian, memakai baju yang sederhana.
- Berangkat ke tempat dalam keadaan tawadhu,
khusyu’, berharap pada Allah.
Tata Cara Pelaksanaan Shalat Istisqo
- Shalat dua rakaat, sebagaimana shalat ‘Ied,
rakaat pertama takbir tujuh kali dan kedua lima kali. Ibnu Abbas berkata:”
lakukan pada Istisqo seperti pada waktu ‘Ied”.
- Rakaat pertama disunnahkan membaca surat Al-A’la
dan rakaat kedua surat Al-Ghasiyah
- Setelah shalat, diteruskan dengan
khutbah dua kali.
- Berdoa menghadap kiblat dan mengangkat dua
tangan.
- Dianjurkan doa Istisqo dibacakan oleh Ahli Bait
dan orang shalih
- Bertawasul dengan amal shalih
- Khusus untuk kaum lelaki disunnahkan memindahkan
dan membalikkan selendang atau sorbannya.
- Dianjurkan imam keluar bersama masyarakat.
- Dianjurkan membawa binatang ternak.
Doa Istisqo :
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ
اَلدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ
اَللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ اَلْفُقَرَاءُ,
أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى
حِينٍ
اللَّهُمَّ
اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا, اللَّهُمَّ اسْقِنا غَيْثاً
مُغِيثاً هَنِيئاً مَرِيئاً غَدَقاً مُجَلِّلاً سَحّاً عامّاً طَبَقاً
دَائِماً؛ اللَّهُمَّ على الظِّرَابِ وَمَنابِتِ الشَّجَرِ، وَبُطُونِ
الأوْدِيَةِ؛ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفّاراً، فأرْسلِ
السَّماءَ عَلَيْنا مِدْرَاراً؛ اللَّهُمَّ اسْقِنا الغَيْثَ وَلا تَجْعَلْنا مِنَ
القَانِطِينَ. اللهم إنَّ بِالعِبادِ والبِلادِ والبهائم والخلق من اللأواء
والجهد والضنك ما لا نشكوه إلا إليك. اللَّهُمَّ أنْبِتْ لَنا الزَّرْعَ،
وَأدِرَّ لَنا الضَّرْعَ، وَاسْقِنا مِنْ بَرَكاتِ السَّماءِ، وأنْبِتْ لَنا مِنْ
بَرَكاتِ الأرْضِ؛ اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الجَهْدَ وَالجُوعَ والعُرْيَ،
واكْشِفْ عَنَّا مِنَ البَلاءِ ما لا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ
اللهم اسقنا
الغيثَ وانصرنا على الأعداء. اللهم أنت أمرتنا بدعائك ووعدتنا إجابتك، وقد دعوناك
كما أمرتنا فأجبنا كما وعدتنا، اللهم امنن علينا بمغفرة ما قارفنا، وإجابتك
في سقيانا، وسعة رزقنا.
Segala puji
bagi Allah Rabbul ‘alamin yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang merajai
hari pembalasan, tidak ada Tuhan selain Allah yang melakukan apa yang Ia
kehendaki, ya Allah Engkaulah Allah tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau
Mahakaya dan kami orang-orang fakir, turunkanlah pada kami hujan, dan jadikan
apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan bekal hingga suatu batas yang
lama.
Ya Allah,
turunkan bagi kami hujan 3x, Ya Allah, turunkan bagi kami hujan
yang menyuburkan, menyejahterakan, bermanfaat, mengalir dari atas ke bawah
merata, dan terus-menerus kebaikannya bagi negeri dan penghuninya. Ya Allah
pada pegunungan, sawah ladang dan danau-danau. Ya Allah kami beristighfar
kepada-Mu, sesungguhnya Engkau penerima ampun, turunkan kepada hujan dari
langit yang terus menerus memberikan kebaikan. Ya Allah turunkanlah hujan dan
jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang putus asa. Ya Allah negeri dan
penduduknya mengalami kesulitan, kesengsaraan, kesempitan dan kami tidak
mengadu kecuali kepada-Mu. Ya Allah tumbuhkanlah bagi kami tanaman, suburkanlah
susu-sus ternak kami, turunkanlah hujan dari keberkahan langit dan tumbuhkanlah
tanaman dari keberkahan bumi. Ya Allah angkatlah dari kami kesusahan,
kelaparan, dan terbukanya aurat, singkapkan dari kami musibah dan tidak ada
yang dapat menyingkapkannya kecuali Engkau
Ya Allah
turunkanlah hujan dan tolonglah kami atas musuh. Ya Allah Engkau telah
memerintahkan kami untuk berdoa, dan berjanji untuk mengabulkan. Dan kami telah
berdoa sebagaimana engkau perintahkan, maka kabulkanlah sebagaimana Engkau
telah janjikan. Ya Allah berikanlah anugerah ampunan-Mu atas kesalahan kami,
dan kabulkan hujan untuk kami dan kelapangan rezeki.
Doa Ketika Hujan Telah Turun
اللّهُمَّ
اجْعَلهُ صَيِّبَاً هَنِيئاً نافعاً. اللهم حوالينا ولا علينا.ويقولون: مُطِرْنَا
بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ
Ya Allah
jadikan hujan yang menyejahterakan dan bermanfaat. Ya Allah turunkan di
sekeliling kami bukan adzab bagi kami. Dan jamaah mengucapkan:” Hujan turun
dengan karunia dan rahmat Allah.
وصلى الله
على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين